Tempat Ibadah

Enam agama, satu alamat. Masjid Negara sudah dibuka, gereja Katolik menyusul tak lama lagi, dan tiga rumah ibadah lainnya masih dalam tahap perencanaan.

Gambar yang mewakili Tempat Ibadah halaman
youtube.com/@Robie_Mrg

Kawasan Peribadatan Nusantara adalah salah satu gagasan paling khas dari ibu kota baru. Kawasan ini adalah satu area di dalam Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) yang dirancang untuk menampung rumah ibadah dari keenam agama resmi di Indonesia: Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu, berdiri berdampingan. Konsep ini berawal dari sayembara desain nasional tahun 2022, di mana kategori kompleks peribadatan saat itu tidak memiliki juara pertama. Tiga karya justru dinyatakan sebagai juara kedua bersama, yaitu "Akur Rukun", "Cahaya Batang Haring Nusantara", dan "Humanity Beyond Religion". Hingga pertengahan 2026, dua dari enam rumah ibadah sudah dibangun dan satu sudah dibuka. Tiga lainnya masih dalam tahap perencanaan.

Humas Otorita IKN

Masjid Negara: sudah dibuka

Masjid Negara telah selesai dibangun dan berfungsi. Peletakan batu pertama dilakukan pada Januari 2024, dan setelah mengalami beberapa penundaan (revisi desain untuk memperbesar kapasitas, ditambah kendala cuaca yang menggeser target penyelesaian awal), masjid ini rampung sepenuhnya pada awal 2026. Salat Idulfitri pertama digelar secara terbuka untuk umum pada 21 Maret 2026. Kapasitas tahap pertama sekitar 29.000 jemaah, dengan rencana kapasitas akhir sekitar 60.000 jemaah. Bentuknya terinspirasi dari sorban, melambangkan kesederhanaan dalam tradisi Islam, dengan kubah berlekuk dinamis dan futuristik. Konsep awal digagas oleh pematung dan arsitek I Nyoman Nuarta, dikenal lewat patung Garuda Wisnu Kencana di Bali, yang kemudian dikembangkan menjadi Detail Engineering Design (DED) lengkap oleh Alien Design Consultant. Masjid ini dikelilingi embung buatan.

youtube.com/@Robie_Mrg

Gereja Santo Fransiskus Xaverius: konstruksi rampung, menunggu peresmian

Berdampingan dengan masjid berdiri gereja Katolik yang disebut dalam dokumen proyek sebagai "Basilika Nusantara": Gereja Santo Fransiskus Xaverius. Konstruksi fisik dikonfirmasi rampung 100% pada April 2026, dengan kapasitas sekitar 1.500 jemaah di dalam gedung dan 1.000 lagi di area selasar luar. Misa syukur peresmian direncanakan berlangsung akhir Juli 2026. Satu hal penting: nama "Basilika" masih merupakan nama administratif proyek, bukan status gerejawi resmi. Penetapan status tersebut memerlukan persetujuan resmi dari Vatikan atas permohonan Uskup Agung Samarinda, dan hingga pernyataan publik terbaru dari Kementerian Agama, status ini masih menunggu keputusan. Sebaiknya periksa status terkini sebelum menyatakan gereja ini "sudah beroperasi" secara pasti.

SHAU Architects

Gereja Kristen, Vihara, Pura, dan Kelenteng: masih akan dibangun

Empat rumah ibadah lainnya, yaitu gereja Kristen Protestan, vihara untuk umat Buddha, pura untuk umat Hindu, dan kelenteng untuk umat Konghucu, belum memulai konstruksi hingga pertengahan 2026. Lahan sudah dialokasikan untuk sebagian, misalnya area pura seluas sekitar 1,6 hingga 1,8 hektare, namun pembangunannya belum menjadi prioritas karena anggaran dan tenaga masih terfokus pada masjid, gereja, dan proyek strategis lainnya. Belum ada jadwal konstruksi resmi yang diumumkan untuk keempatnya.

Humas Otorita IKN

Berkunjung saat ini

Masjid Negara sudah dibuka dan dapat dikunjungi. Status pembukaan gereja sebaiknya dikonfirmasi mendekati tanggal kunjungan. Akses ke Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) secara umum tidak selalu terbuka setiap hari. Kawasan ini cenderung dibuka untuk umum pada momen libur nasional dan keagamaan besar, dengan aturan berpakaian yang berlaku di beberapa gedung pemerintahan di sekitarnya (wajib sepatu tertutup, dilarang celana pendek atau baju tanpa lengan di area tertentu). Periksa Rencanakan Kunjungan untuk jadwal akses terkini sebelum berkunjung. Setelah rampung sepenuhnya, kawasan ini akan menjadi salah satu dari sedikit tempat di dunia di mana rumah ibadah utama dari enam agama berdiri dalam jarak berjalan kaki satu sama lain. Namun untuk saat ini, tiga dari enam masih berupa rencana, belum menjadi tempat yang bisa dikunjungi.