Pusat Kebudayaan Nusantara adalah kawasan budaya yang direncanakan di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, dirancang sebagai ruang untuk menampung, merayakan, dan mengembangkan identitas bangsa Indonesia melalui kebudayaan. Kawasan ini terletak di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, berada pada satu garis sumbu kebangsaan bersama Istana Negara, Plaza Bhinneka Tunggal Ika, Kantor Otorita IKN, dan Masjid Negara, serta direncanakan dibangun di atas lahan seluas 33,38 hektare.
Kawasan ini akan terdiri atas dua plaza utama, yaitu Plaza Demokrasi dan Plaza Adi Budaya, yang dikelilingi oleh sejumlah fasilitas budaya publik, antara lain museum, perpustakaan, galeri seni, gelanggang olahraga, teater atau auditorium, serta taman budaya, yang bersama-sama dimaksudkan untuk memperkuat ekosistem kebudayaan di IKN.
Sayembara Desain
Desain kawasan ini dipilih melalui Sayembara Desain Bangunan dan Kawasan Pusat Kebudayaan IKN, yang diselenggarakan oleh Otorita IKN (OIKN) bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan, dengan dukungan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI). Sayembara berlangsung sejak 5 November 2025 hingga penjurian akhir pada 29 Januari 2026, dengan total hadiah sebesar Rp1,15 miliar. Puluhan karya diajukan pada tahap awal sayembara, yang kemudian disaring melalui beberapa tahap penjurian hingga tersisa tiga karya finalis.
Pemenang diumumkan pada 30 Januari 2026 di Kantor Kemenko 3, KIPP IKN, oleh Deputi Bidang Sarana dan Prasarana OIKN, Aswin Grandiarto Sukahar. Hasil sayembara ditetapkan sebagai berikut:
- Juara I: Cerlang Nusantara, karya tim yang dipimpin arsitek Gregorius (Yori) Antar Awal
- Juara II: Simfoni Puspa Segara, karya tim yang dipimpin Rachmat Fadhil Afrizal Zamri
- Juara III: Kisah yang Ditenun oleh Rimba, karya tim yang dipimpin Yakob Susanto
Konsep Cerlang Nusantara
Desain pemenang, Cerlang Nusantara, mengusung narasi perjalanan peradaban Nusantara dari zaman megalitikum, salah satu peradaban tertua di Nusantara, menuju masa depan. Konsep ini menegaskan bahwa sejarah dan tradisi tidak berhenti di masa lampau, melainkan terus hidup dan menjadi penuntun bagi masyarakat menuju masa depan.
Bangunan-bangunan utama dirancang bernuansa batu dengan bentuk prismatik dan asimetris, terinspirasi oleh pahatan batu purba yang ditemukan di berbagai wilayah Nusantara, mulai dari Nias, Sumba, hingga Sulawesi. Desain ini juga dibalut kearifan lokal Kalimantan melalui filosofi pohon kehidupan, yang tercermin dalam infrastruktur bangunan, serta dirancang sebagai bagian dari poros hijau IKN yang menghubungkan Istana Presiden hingga Plaza Bhinneka Tunggal Ika, dengan tetap mempertahankan pohon-pohon endemik Kalimantan yang telah ada di lokasi, seperti pohon ulin.
Arsitek utama tim pemenang, Yori Antar, menyampaikan bahwa tradisi dan budaya Nusantara tidak boleh dibekukan pada masa lalu, melainkan harus dibawa ke masa kini untuk membimbing masyarakat menuju masa depan.
Status Pembangunan
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyatakan bahwa hak cipta atas desain pemenang dimiliki oleh OIKN, dan pemenang sayembara berpeluang untuk terus berkolaborasi dalam pengembangan desain lebih lanjut. Setiap desain telah dilengkapi dengan perkiraan rancangan anggaran biaya, yang akan menjadi pertimbangan lebih lanjut sebelum pembangunan dimulai. Pembangunan Pusat Kebudayaan Nusantara paling cepat ditargetkan mulai pada tahun 2027, bergantung pada ketersediaan anggaran.
Pembangunan kawasan ini diharapkan menjadi tonggak penguatan identitas bangsa, sekaligus mempertegas posisi Ibu Kota Nusantara sebagai kota yang tidak hanya dibangun untuk fungsi pemerintahan, tetapi juga sebagai ruang peradaban yang berakar pada budaya dan berorientasi pada masa depan.
Lokasi
Lihat lokasi lainnya berikut ini

Masjid Negara Ibu Kota Nusantara

Gereja Santo Fransiskus Xaverius







